Jumat, 15 Mei 2020

Puisi Tugas Kuliah PBAK

ADIL, KEMANAKAH?

Ketika melangkah di tanah gersang
Tertegun hati menatap gubug yang usang
Anak yang berteduh di dalam sana
Seperti membuat hati sedikit sengsara
Adil?
Apakah benar jika dicapkan untuk anak itu?
Apakah bisa disamakan dengan aku yang riang sementara dia mengerang?
Adil,
Apa benar kata tersebut menjadi perantara antara nasibnya dengan nasibku?
Apakah anak yang harusnya duduk menimba ilmu
Namun sekarang sedang beradu dengan aspal berdebu?
Adil,
Apakah berasal dari tangan-tangan penguasa itu?
Apakah berasal dari kaki yang berjalan diatas karpet beludru?
Apakah berasal dari mulut yang beradu, pilih aku coblos aku?
Apakah berasal dari janji yang berbunyi merdu?
Adil,
Bagaimana caraku untuk mendapatkanmu?
Akan kuberikan pada anak itu jika kutau
Ku ingin dunianya dan duniaku bertemu
Setidaknya,
Biarkan dia membangun asanya kembali
Mendaki bukit penuh mimpi yang menanti
( Semarang, 15 Mei 2020 )




Oleh :
Ivana Dwi Susanto
D03.019.012
Prodi Psikologi
Universitas Nasional Karangturi Semarang



PURA-PURA LUPA : Pernah

"Pernah aku jatuh hati, padamu sepenuh hati."
Dulu, aku sempat memiliki kenangan bersama seseorang. Awalnya dia kakak yang aku kenal di Facebook karena persamaan minat. Awalnya hanya biasa saja, saling mengirim chat yang hanya membahas seputar minat kami saja. Hal itu terjadi berbulan-bulan dan baik aku maupun dia, hanya terhubung dengan embel-embel "kakak dan adik"
Namun seiring berjalannya waktu, rasa nyaman itu mulai ada. Kami berdua tidak menyadarinya, kami hanya mengalir begitu saja menikmati setiap waktu yang ada. Kami tidak pernah bertemu, sama sekali. Namun kami merasa nyaman satu sama lain, ah rasanya seperti tidak ingin melewatkan satu hari tanpa chat.
Ketika dia memiliki pasangan disana, hati ini seperti sakit. Aku tidak tahu perasaaan apa itu, namun rasanya sesak dan menyakitkan. Tidak suka, itulah yang aku rasakan. Padahal ketika kembali melihat diri sendiri, seketika aku menyadari, aku ini siapa kok bisa merasakan sakit yang sedemikian. Akhirnya, tidak lama dia putus dengan kekasihnya. Ada kelegaan di hati ini, namun aku kembali bertanya, rasa apa ini?
Aku mulai menyadari apa yang aku rasakan, ketika dia memberitahu rasanya pula padaku. Yang benar saja, ini adalah sesuatu yang gila, sangat sulit diterima oleh nalar. Aku menyayanginya lebih dari kakak, dan dia menyayangiku lebih dari sekedar adik. Aku tidak bisa menerimanya, karena memang ditentang karena perbedaan. Namun, hatiku sakit ketika melihat dia sedih karena aku tidak bisa menerimanya. Ah, kakak, kenapa aku tidak bisa menolakmu, menolak rasa yang kamu berikan padaku.
Aku mulai berpikir, tak ada salahnya, toh semua ini hanya sebatas sayang antara kakak dan adik, pikirku. Namun semua tak berjalan lancar sesuai dengan ekspetasiku. Ya, dia menjebol pertahananku, aku menanamkan cinta padanya, begitu pula dengannya.